BILOGAI — Ketika berbicara tentang masa depan Tanah Papua, perhatian tidak boleh hanya diarahkan pada pembangunan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya alam. Ada investasi yang jauh lebih menentukan perjalanan Papua dalam jangka panjang, yaitu pendidikan dan pembangunan manusia Papua.
Dalam sejarah pendidikan di Tanah Papua, Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) dan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-Gereja Injili di Tanah Papua (YPPGI) mempunyai tempat penting. Kedua lembaga pendidikan tersebut telah hadir melalui sekolah-sekolah yang menjangkau masyarakat di berbagai wilayah, termasuk daerah pedalaman dan pegunungan.
Kehadiran sekolah-sekolah tersebut tidak hanya membuka pintu bagi anak-anak Papua untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, iman, dan kepedulian terhadap sesama.
Dari sekolah sederhana menuju ruang kepemimpinan
Sejarah menunjukkan bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh yayasan keagamaan telah ikut membentuk banyak generasi Papua.
Salah satu contoh adalah John Wempi Wetipo, yang dalam dokumen profil pemerintah tercatat menempuh pendidikan dasar di SD YPPGI Hitigima, Wamena, sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Dalam perjalanan kariernya, ia kemudian dipercaya menduduki berbagai jabatan pemerintahan, termasuk sebagai Bupati Jayawijaya dan Wakil Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Contoh lain datang dari lingkungan YPPK. Gubernur Papua, Matius Derek Fakhiri, dalam sebuah kegiatan alumni SMP YPPK Santo Thomas Wamena pada April 2026, mengenang pendidikan yang ditempuhnya di Wamena sebagai bagian dari fondasi perjalanan hidupnya. Ia juga merefleksikan bagaimana pendidikan pada masa itu membentuk dirinya dan generasi Papua lainnya.
Sementara itu, dalam sebuah kegiatan HUT YPPGI, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo menyampaikan bahwa gereja dan lembaga pendidikan, khususnya YPPGI, telah melahirkan banyak sumber daya manusia yang kemudian mengabdi di berbagai sektor, termasuk pemerintahan. Ia juga mengenang peran guru dan tokoh gereja yang membentuk karakter dan semangat belajarnya sejak kecil.
Contoh-contoh tersebut memberikan gambaran bahwa sekolah bukan sekadar tempat memperoleh ijazah.
Sekolah dapat menjadi titik awal perjalanan seorang anak menuju pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat.
Pendidikan membentuk manusia, bukan hanya kecerdasan
Keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari nilai akademik.
Anak yang memperoleh pendidikan perlu dibentuk menjadi manusia yang mempunyai karakter, integritas, disiplin, tanggung jawab dan kepedulian sosial.
Nilai-nilai tersebut sangat penting bagi Papua.
Papua membutuhkan generasi yang memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki hati untuk melayani masyarakat.
Papua membutuhkan orang-orang yang mampu menguasai teknologi, tetapi tetap menghargai budaya dan identitasnya.
Papua membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus memiliki kepedulian terhadap masyarakat kecil di kampung-kampung.
Di sinilah sekolah-sekolah YPPK dan YPPGI mempunyai tantangan sekaligus tanggung jawab besar.
Dari pedalaman Papua untuk Papua dan Indonesia
Anak yang bersekolah di kampung-kampung Papua tidak boleh merasa bahwa keterbatasan tempat tinggal menentukan masa depannya.
Anak yang bersekolah di Bilogai, Sugapa, Hitadipa, Agapa, Wamena, Tiom, Ilaga, Yahukimo, Paniai, Nabire, Jayapura maupun wilayah Papua lainnya memiliki hak yang sama untuk bermimpi.
Ia berhak menjadi guru.
Ia berhak menjadi dokter.
Ia berhak menjadi dosen.
Ia berhak menjadi birokrat.
Ia berhak menjadi pemimpin.
Ia berhak menjadi pengusaha.
Ia bahkan berhak mengambil bagian dalam kepemimpinan bangsa Indonesia.
Perjalanan sejumlah alumni YPPK dan YPPGI memperlihatkan bahwa pendidikan dari daerah dapat menjadi modal untuk mengambil bagian dalam ruang pengabdian yang lebih luas.
Bahkan pengalaman Demi Magai, yang bersekolah di SD YPPGI Nggifrom di wilayah Gome, menunjukkan bagaimana pendidikan di tengah keterbatasan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju dunia profesional. Ia kemudian berkarier hingga menjadi Senior Vice President di PT Freeport Indonesia. Dalam kisahnya, ia menceritakan bagaimana dahulu harus berjalan kaki berjam-jam menuju sekolah.
Kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi alasan untuk mematikan cita-cita anak Papua.
YPPK dan YPPGI perlu terus diperkuat
Namun, keberhasilan masa lalu harus menjadi alasan untuk bekerja lebih keras pada masa depan.
Dunia pendidikan telah berubah.
Anak-anak Papua hari ini menghadapi perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja dan persaingan global yang semakin cepat.
Karena itu, sekolah-sekolah YPPK dan YPPGI perlu terus diperkuat.
Guru harus mendapatkan kesempatan meningkatkan kompetensi.
Sekolah membutuhkan perpustakaan, laboratorium, perangkat teknologi, listrik, internet dan fasilitas pembelajaran yang memadai.
Kurikulum juga perlu dikembangkan agar peserta didik mampu berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi, berkolaborasi dan memecahkan masalah.
Namun, modernisasi pendidikan tidak berarti meninggalkan identitas Papua.
Justru pendidikan harus membuat anak Papua semakin percaya diri dengan identitas, budaya dan nilai-nilai luhur masyarakatnya.
Pemerintah, gereja, yayasan dan masyarakat harus berjalan bersama
Pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada guru.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab memastikan hak pendidikan masyarakat terpenuhi. Gereja dan yayasan mempunyai sejarah pelayanan pendidikan yang panjang. Orang tua mempunyai peran utama dalam membentuk karakter anak. Masyarakat dan alumni juga mempunyai tanggung jawab untuk ikut menjaga keberlanjutan pendidikan.
Karena itu, diperlukan kerja sama yang kuat antara pemerintah, YPPK, YPPGI, gereja, guru, orang tua, alumni dan masyarakat.
Alumni tidak cukup hanya bangga pernah bersekolah di sekolah yayasan.
Alumni juga perlu kembali melihat sekolahnya.
Apa yang dapat diberikan?
Mungkin buku.
Mungkin komputer.
Mungkin pelatihan guru.
Mungkin beasiswa.
Mungkin jaringan untuk membantu anak-anak melanjutkan pendidikan.
Atau bahkan sekadar datang dan berbicara kepada anak-anak bahwa mereka juga bisa berhasil.
Jangan biarkan anak Papua kehilangan harapan
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi Papua, pendidikan harus tetap menjadi jalan yang dijaga.
Jangan sampai seorang anak di pedalaman merasa bahwa karena ia lahir di kampung, maka cita-citanya harus kecil.
Jangan sampai keterbatasan internet membuat ia tidak mengenal dunia.
Jangan sampai kekurangan guru membuat ia kehilangan kesempatan.
Dan jangan sampai sekolah di pedalaman hanya menjadi bangunan tanpa masa depan.
Sebab, di dalam kelas yang sederhana itu mungkin sedang duduk seorang anak yang suatu hari akan menjadi pemimpin daerah.
Mungkin sedang duduk seorang calon dokter.
Mungkin seorang calon guru.
Mungkin seorang ilmuwan.
Mungkin seorang pastor atau pendeta.
Mungkin seorang birokrat.
Mungkin seorang pengusaha.
Kita tidak pernah tahu siapa anak yang sedang duduk di bangku sekolah hari ini.
Karena itu, pendidikan harus dijaga.
Masa depan Papua ada di sekolah hari ini
YPPK dan YPPGI telah menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan di Tanah Papua. Banyak generasi telah melewati ruang-ruang kelasnya dan kemudian mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Tugas generasi sekarang adalah memastikan agar perjalanan itu terus berlanjut.
Sekolah-sekolah yayasan perlu mendapatkan perhatian dan dukungan agar mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi dasar pendidikannya.
Sebab membangun Papua tidak hanya berarti membangun jalan dan gedung.
Membangun Papua berarti membangun manusia Papua.
Dan membangun manusia membutuhkan waktu, kesabaran, guru yang berdedikasi, sekolah yang kuat, keluarga yang mendukung dan masyarakat yang peduli.
Pada akhirnya, sejarah akan terus mencatat bahwa dari sekolah-sekolah sederhana di berbagai pelosok Tanah Papua, anak-anak belajar membaca, menulis, berpikir, bermimpi dan kemudian mengambil bagian dalam perjalanan bangsa.
Hari ini mereka adalah murid.
Besok mereka adalah guru, dokter, pemimpin, pengusaha, akademisi dan pelayan masyarakat.
Dan masa depan Papua sedang dibentuk di ruang kelas mereka.(*)
Pendidikan & Refleksi Papua


