Pesan Minggu Minggu Biasa XXVII: Pastor Yanuarius Yance,Yogi,Pr. Ajak Umat Menjaga “Kebun Anggur” Tuhan dalam Keluarga dan Gereja

Redaksi
4 Min Read
Pastor Yanuarius Y. Yogi, Pr. menyampaikan kotbah pada Minggu Biasa XXVII di Gereja Santo Mikael Wajimba, Bilogai, Minggu, 4 Oktober 2026./foto.komsos

BILOGAI, WARTAPAROKIBILOGAI.COM— Seluruh umat Katolik pada Minggu, 4 Oktober 2026, merayakan Minggu Biasa XXVII dalam Tahun Liturgi. Liturgi Sabda pada hari ini mengangkat tema tentang kebun anggur Tuhan dan tanggung jawab umat untuk menghasilkan buah yang baik dalam kehidupan.

Dalam bacaan Injil Matius 21:33-43, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para penggarap. Melalui perumpamaan tersebut, umat diajak untuk menyadari bahwa apa yang dipercayakan Tuhan harus dirawat dan menghasilkan buah yang baik.

Pesan tersebut juga menjadi bagian penting dalam kotbah Pastor Paroki Santo Mikael Bilogai, P. Yanuarius Y. Yogi, Pr., dalam Perayaan Ekaristi pada Minggu, 4 Oktober 2026, di Gereja Santo Mikael Wajimba, Bilogai, Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

Dalam kotbahnya, Pastor Yanuarius mengajak seluruh umat untuk menyadari bahwa setiap orang yang telah dibaptis memiliki panggilan dan tanggung jawab untuk bekerja serta menjaga “kebun anggur” Tuhan.

“Kita semua dipanggil untuk bekerja di kebun anggur. Jangan merasa, ‘Saya orang berdosa, saya orang mabuk, saya beristri dua, saya istri kedua,’ dan lain sebagainya yang merupakan bahasa-bahasa yang tidak baik,” tegasnya.

Menurut Pastor Yanuarius, kelemahan dan masa lalu seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk merasa tidak layak mengambil bagian dalam kehidupan Gereja. Setiap orang dipanggil untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan menghasilkan buah kehidupan yang baik.

Ia juga mengingatkan umat mengenai identitas mereka sebagai anggota Gereja melalui Sakramen Baptis.

Karena kita sudah dibaptis, berarti kita sudah sah menjadi anggota Gereja dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,” ujarnya.

Menjaga kebun anggur mulai dari keluarga

Pastor Yanuarius menjelaskan bahwa “kebun anggur” dapat dimaknai sebagai kehidupan bersama yang dipercayakan Tuhan kepada umat. Karena itu, kebun anggur tersebut harus dijaga mulai dari lingkungan yang paling dekat.

Mari kita pergi dan menjaga kebun anggur di dalam keluarga, komunitas, stasi, paroki, dan dekenat ini,” ajaknya.

Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama bagi umat untuk menanam dan merawat iman. Dari keluarga, semangat tersebut kemudian dibawa ke dalam komunitas, stasi, paroki, hingga kehidupan bersama di tingkat dekenat.

Ia mengingatkan bahwa tugas menjaga kehidupan Gereja bukan hanya menjadi tanggung jawab pastor atau para pengurus Gereja. Seluruh umat yang telah dibaptis dipanggil untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan dan tugas masing-masing.

Menghasilkan buah yang baik

Pesan kebun anggur pada Minggu Biasa XXVII menjadi ajakan bagi umat untuk tidak hanya menjadi anggota Gereja secara formal, tetapi juga menghasilkan buah melalui kehidupan nyata.

Buah tersebut dapat diwujudkan melalui kasih dalam keluarga, kepedulian terhadap sesama, pelayanan kepada umat, menjaga persatuan, mengampuni, membangun perdamaian, serta setia dalam kehidupan iman.

Dalam konteks kehidupan umat Paroki Santo Mikael Bilogai, pesan tersebut menjadi panggilan untuk bersama-sama menjaga kebun anggur Tuhan di tengah keluarga, komunitas, stasi, paroki, dan dekenat.

Di akhir kotbahnya, Pastor Yanuarius kembali menegaskan pentingnya umat hidup dalam persekutuan dan panggilan iman.

Kalau kita hidup di luar kebun anggur, berarti kita hidup dalam neraka,” tegasnya.

Pesan tersebut mengajak seluruh umat untuk kembali melihat diri masing-masing sebagai bagian dari kebun anggur Tuhan. Setiap umat mempunyai tempat, tanggung jawab, dan kesempatan untuk bekerja serta menghasilkan buah yang baik bagi keluarga, Gereja, dan sesama.

Dengan demikian, perayaan Minggu Biasa XXVII bukan hanya menjadi perayaan liturgi, tetapi juga menjadi momentum bagi umat untuk memperbarui komitmen dalam merawat iman dan kehidupan bersama sebagai satu keluarga besar Gereja.(*)

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *