PARIS — Kunjungan hari pertama Paus Leo XIV di Prancis ditutup dengan pertemuan doa vigil bersama sekitar 80.000 kaum muda di Stade de France, Paris, Jumat malam, 25 September 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Paus Leo XIV mendengarkan kesaksian dan pertanyaan kaum muda serta menyampaikan pesan agar mereka tidak takut mengikuti Kristus dan berani mengambil bagian dalam kehidupan bersama.
Stade de France, stadion terbesar di Prancis, dipenuhi kaum muda yang datang dari berbagai daerah. Mereka berasal dari lingkungan perkotaan maupun pedesaan, terdiri atas pelajar, pekerja, kaum profesional muda, hingga pekerja manual. Keberagaman tersebut dipersatukan oleh iman dan kerinduan untuk mendengarkan pesan Bapa Suci.
Pertemuan diawali dengan berbagai acara berupa kesaksian, lagu, dan pertunjukan seni. Sejumlah hiburan juga mengangkat kehidupan para santo dan santa Prancis. Suasana kemudian semakin meriah dengan kembang api dan sorak-sorai kaum muda yang menghormati nama “Leo”.
Iman yang Menjadi Kesaksian dalam Kehidupan
Dalam pertemuan tersebut, Chloé, seorang mahasiswa farmakologi yang aktif melayani masyarakat kurang mampu, bertanya kepada Paus bagaimana ia dapat membagikan imannya kepada orang-orang yang memiliki agama berbeda.
Paus Leo XIV mengingatkan bahwa kehidupan bersama harus dibangun dengan perhatian terhadap sesama manusia, terutama mereka yang miskin, rentan, dan sakit.
Menurut Paus, pelayanan kepada mereka yang membutuhkan merupakan bentuk bukti iman yang nyata. Di tengah kehidupan sehari-hari dan berbagai kesulitan, iman dapat menjadi bukti hidup tentang harapan.
Paus juga menekankan pentingnya persaudaraan dengan orang-orang yang tidak memiliki iman yang sama. Ia menunjuk berbagai pertemuan kaum muda dari negara-negara Mediterania sebagai salah satu contoh persaudaraan yang menggembirakan.
Kaum Muda Diajak Berani Berkomitmen
Pertanyaan berikutnya datang dari François, seorang mahasiswa agronomi yang berasal dari daerah pedesaan dan aktif sebagai pembina pramuka. Ia bertanya-tanya bagaimana menemukan arah hidup dan mampu menyerahkan diri secara setia pada pilihan tersebut.
Paus Leo XIV menjawab dengan ajakan untuk berkomitmen dalam pelayanan perdamaian.
Menurut Paus, komitmen dapat mengubah ketakutan menjadi harapan dan keluhan menjadi keterlibatan yang bertanggung jawab. Dalam proses tersebut, luka-luka manusia dapat menemukan penghiburan dan penebusan.
Paus juga mengakui berbagai kegelisahan yang dirasakan kaum muda, mulai dari kedekatan masa depan, hubungan emosional, kerapuhan hubungan antarmanusia, kelelahan akibat penggunaan layar digital, hingga kekhawatiran mengenai perubahan iklim serta situasi ekonomi dan internasional.
Oleh karena itu, Paus mengajak kaum muda untuk mendengarkan berbagai perasaan tersebut dan membuka hati terhadap penderitaan teman-teman sebaya.
Kepada mereka yang merasa mendapat panggilan untuk mengikuti Yesus melalui jalan imamat maupun hidup bakti, Paus Leo XIV memberikan dorongan secara khusus.
“Gereja di Prancis sangat membutuhkan kalian. Jangan takut terhadap panggilan ini!”
Merenungkan Tunika Suci dan Salib
Dalam kewaspadaan tersebut, kaum muda juga diajak melakukan penghormatan terhadap Tunika Suci Argenteuil yang secara khusus dibawa ke Stade de France.
Paus Leo XIV mengajak seluruh peserta memikirkan dua tanda Sengsara Kristus, yakni tunika dan salib.
Menurut Paus, salib yang merupakan alat kematian justru telah menjadi tanda harapan. Sementara itu, tunika yang dikenakan Yesus mengingatkan umat beriman akan jubah putih yang telah dibasuh dalam darah Anak Domba.
Paus menjelaskan bahwa tunika dan salib melambangkan Gereja yang lahir dari kehidupan Allah yang diberikan kepada dunia.
Tiga Ajakan Paus kepada Kaum Muda
Dalam pesannya, Paus Leo XIV memberikan tiga ajakan kepada kaum muda: menghindari, meraih, dan berjuang.
Pertama, kaum muda diajak menghindari kesombongan, kesia-siaan, kekerasan, dan keserakahan karena berbagai sikap tersebut dapat menguasai dan memperbudak manusia.
Kedua, diajak mereka meraih keadilan, kesalehan, iman, kasih, kesabaran, dan kelemahlembutan. Semua penanda tersebut mengarahkan manusia kepada sesuatu yang lebih baik dan membantu seseorang berjalan menuju kekudusan.
Ketiga, kaum muda diajak berjuang dalam iman. Perjuangan tersebut merupakan komitmen untuk hidup sesuai dengan Injil sebagai murid-murid Yesus.
Paus menekankan bahwa perjuangan iman bukanlah perjuangan melawan orang lain. Perjuangan itu tidak dilakukan dengan kekerasan, kriminalitas, maupun berpikir.
“Satu-satunya senjata kita adalah kasih yang memberikan diri.”
Terang Roh Kudus Menarangi dan Menghibur
Menutup pesannya, Paus Leo XIV berbicara mengenai berbagai kekuatan yang dapat mengganggu hubungan manusia dengan Allah serta kekuatan yang berusaha memecah belah manusia dan bangsa-bangsa.
Dalam situasi tersebut, Paus mengingatkan bahwa terang Roh Kudus mendatangkan dan menghibur.
Di hadapan sekitar 80.000 kaum muda, Paus kemudian mengajak mereka untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan karya yang membantu mereka mengikuti Tuhan.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari perjumpaan Paus Leo XIV dengan kaum muda dalam kunjungannya ke Prancis, sekaligus sebuah ajakan agar generasi muda berani hidup dalam iman, pelayanan, persaudaraan, perdamaian, dan kasih.(*)
Catatan Redaksi
Berita ini ditulis kembali oleh Warta Paroki Bilogai berdasarkan pemberitaan Vatican News. Penyusunan ulang dilakukan dalam bentuk narasi jurnalistik dengan tetap mempertahankan substansi dan informasi utama dari sumber asli.
Sumber: Berita Vatikan


